You are currently viewing Seminar Nasional Pantun, Gelaran Merawat Budaya Ikhtiar Tetapkan Hari Pantun Nasional

Seminar Nasional Pantun, Gelaran Merawat Budaya Ikhtiar Tetapkan Hari Pantun Nasional

Seminar Nasional Pantun digelar dan mengangkat tema tentang “Mengapa Indonesia Memerlukan Hari Pantun Nasional” Hal ini pun dijawab oleh para pakar yang berpengalaman, tak hanya itu seminar ini berhasil menghadirkan Menteri Pendidikan Indonesia yaitu Bapak Nadiem Makarim lewat zoom meeting. Kegiatan ini dibuka dengan penampilan tari Manggar yang sangat luar biasa. Kegiatan ini dilakukan dari pukul 08.00 sampai dengan 15.30 kegiatan seminar pantun ini terjadi sebagai sejarah untuk pertama kalinya membahas mengenai, mengapa Indonesia membutuhkan Hari Pantun Nasional dan disambut dengan antusias oleh para peserta. Kegiatan ini tak hanya dilakukan secara offline namun juga dilakukan secara online. Kegiatan seminar pantun ini mendatangkan para pakar ahli di bidang pantun dari berbagai tempat.

Jurnalis SATRA berkesempatan mewawancarai beberapa pembicara dalam Seminar Nasional Pantun ini. Keynote speaker seperti Bapak Raja Yoserizal Zen (Kadisdikbud Riau), Prof. Dr. dr. Umar Zein (Owner klinik Pantun Medan) dan Ibu Pudentia ( ketua ATL Pusat) mengatakan “Suatu yang luar biasa sekali tentu nya baik dalam sisi pengemasan acara kemudian peserta nya yang juga luar biasa diikuti dengan anak-anak sekolah sebagai generasi penerus” Ujar Bapak Raja Yoserizal Zen yang juga Ketua ATL Riau.
“Ya ini merupakan suatu kegiatan dari masyarakat Kalimantan Barat yang luar biasa dan saya tidak menduga bahwasanya masyarakat Kalimantan Barat khususnya Pontianak menyiapkan acara ini sesempurna mungkin hingga bisa mengadakan menteri pendidikan walaupun melalui zoom dan tentunya itu suatu prestasi yang sangat luar biasa sekali dan usulan supaya dideklarasikan nya hari Pantun Nasional pada tanggal 17 Desember 2023 mudah – mudahan bisa berjalan dengan baik” Ujar Prof. Dr. dr. Umar Zein Selaku owner Klinik Pantun Nusantara.
“Luar biasa antusias peserta dari berbagai kalangan dan ini membuat kita mempunyai harapan yang besar, bahwa pengusulan Hari Pantun Nasional akan disukseskan” Ujar Ibu Dr Pudentia MPSS selaku Ketua ATL Pusat.
Hari Pantun Nasional ini sangat diperlukan agar Pantun tidak hanya diakui sebagai warisan budaya Melayu tetapi juga akan diakui sebagai warisan budaya tak benda dunia, maka ditetapkan lah Hari Pantun Nasional pada tanggal 17 Desember 2023 agar tetap diingat dan senantiasa terwarisi dari waktu ke waktu menjadi warisan untuk anak cucu kita nanti.
Pantun sendiri mempunyai ciri khas nya sendiri mengapa menjadi penting untuk agar terus dikenal dan diwariskan kepada anak cucu kita nanti, “Pantun itu luar biasa, dalam artian susunan kata kata, sopan santunnya. Dengan pantun generasi milenial ini bisa memahami bahwasanya kita bisa mengatakan apapun dengan cara yang baik dan sopan. Pantun juga membuat kita lebih peka terhadap lingkungan” Ujar Ibu Pudentia. Namun budaya pantun sendiri sudah jarang sekali diterapkan di kalangan anak muda zaman sekarang, sedikit banyak mereka mengabaikan warisan – warisan budaya Indonesia. Oleh karena itu Bapak Raja Yoserizal Zen mengatakan bahwasanya kita hanya perlu melakukan pengembangan dalam ekosistem kebudayaan dan pemanfaatan, lewat perkembangan teknologi sekarang itu bisa menjadi inovasi untuk terus mengembangkan warisan budaya Indonesia terutama dalam hal pantun ini. “Kegiatan pantun ini harus dilestarikan karena ini hanya bukan untuk kami tetapi juga untuk generasi muda terutama generasi tingkat SMP/SMA yang dimana harus mulai sekarang giatkan untuk melestarikan budaya berpantun dan ilmu berpantun agar bisa diturunkan ke anak cucu kita nanti, karena pantun ini merupakan sastra jenius yang diciptakan oleh para leluhur kita dahulu” Ujar Prof Dr Umar Zein.
Seminar ini diselenggarakan agar harapan nya kedepan kegiatan ini bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat luas khususnya masyarakat Indonesia agar kedepannya bisa melestarikan budaya bangsa, karena ini adalah milik kita dan merupakan suatu kearifan lokal bangsa Indonesia, bukan hanya milik orang-orang zaman dahulu dan bukan juga hanya untuk bangsa Melayu tetapi untuk seluruh masyarakat luas. “Pantun ini jika dapat dilestarikan dia bisa menjadi apa saja. Bisa menjadi Bisnis, Menjadi komponen wisata, Komponen hiburan, Komponen pendidikan, dan masih banyak lain